REDAKSI, Industri ayam petelur sedang menghadapi situasi yang perlu mendapat perhatian serius. Produksi telur yang meningkat seharusnya menjadi kabar baik bagi ketahanan pangan. Namun ketika peningkatan produksi tidak sebanding dengan kemampuan pasar menyerap hasilnya, yang terjadi justru sebaliknya: harga tertekan dan peternak mulai menghitung kerugian.
Dampaknya bahkan mulai dirasakan oleh sektor usaha pendukung peternakan. Salah satunya adalah produsen kandang ayam petelur yang mengalami penurunan pemasaran. Kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa sebagian peternak mulai menahan ekspansi maupun mengurungkan rencana menambah populasi ayam.
Situasi ini tidak berdiri sendiri.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebelumnya membawa optimisme terhadap industri pangan, termasuk peternakan ayam petelur. Besarnya kebutuhan bahan pangan untuk program tersebut menciptakan harapan akan terbukanya pasar telur dalam skala besar.

Optimisme terhadap peningkatan permintaan tersebut kemudian ikut membuka peluang pengembangan usaha. Peternak maupun investor berani menambah populasi dan kapasitas produksi karena melihat adanya potensi pasar yang besar.
Namun, ketika peningkatan kapasitas produksi berjalan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan penyerapan pasar, persoalan baru dapat muncul.
Pasokan telur menjadi melimpah.
Di lapangan, harga telur saat ini disebut turun hingga kisaran Rp20.000–Rp21.000 per kilogram. Sementara itu, biaya pakan justru mengalami kenaikan, dengan harga yang disebut telah mencapai kisaran Rp400 ribuan per kemasan tertentu.
Angka tersebut tentu masih perlu dilihat berdasarkan jenis pakan, berat kemasan dan wilayah pemasarannya. Namun gambaran besarnya cukup jelas: harga jual telur turun ketika biaya produksi justru semakin tinggi.
Pakan merupakan salah satu komponen terbesar dalam biaya produksi ayam petelur. Peternak juga masih harus menanggung tenaga kerja, obat dan vitamin, listrik, distribusi, kematian ternak hingga penyusutan investasi kandang.
Ketika harga telur tidak mampu memberikan margin yang cukup terhadap seluruh biaya tersebut, peternak berada dalam posisi sulit.
Kondisi di Jawa Timur, di mana muncul aksi protes berkaitan dengan telur yang sulit terserap pasar, juga patut menjadi perhatian. Fenomena semacam ini menunjukkan bahwa persoalan kelebihan pasokan tidak boleh dianggap sebagai masalah sesaat.

Yang perlu dievaluasi bukan semata-mata program MBG.
Belum cukup dasar untuk menyimpulkan bahwa MBG menjadi penyebab langsung terjadinya kelebihan produksi telur. Namun ekspektasi besarnya kebutuhan pangan dari program tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong optimisme pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Di sinilah perencanaan menjadi penting.
Jika pemerintah mendorong program pangan dalam skala sangat besar, maka peta produksi dan kebutuhan harus dihitung secara matang. Berapa jumlah ayam petelur yang tersedia? Berapa produksi telur setiap hari? Berapa kebutuhan konsumsi masyarakat? Berapa yang dapat diserap MBG? Dan berapa kemampuan pasar menyerap kelebihan produksinya?
Data tersebut harus menjadi dasar pengembangan industri.
Jangan sampai pelaku usaha melakukan ekspansi berdasarkan ekspektasi permintaan yang tinggi, tetapi ketika ayam memasuki masa produksi dan telur membanjiri pasar, penyerapan tidak tumbuh dalam kecepatan yang sama.
Dampaknya akan menjalar.
Peternak menunda penambahan populasi. Permintaan kandang turun. Industri pendukung peternakan ikut melambat. Jika kondisi berlangsung lama, bukan tidak mungkin peternak mengurangi populasi karena tidak mampu menanggung biaya produksi.

Pemerintah perlu melihat persoalan ini sebagai persoalan ekosistem, bukan sekadar fluktuasi harga telur.
Jika memang terjadi surplus produksi di wilayah tertentu, perlu dipikirkan bagaimana distribusi antardaerah diperkuat dan bagaimana program pangan pemerintah, termasuk MBG, dapat membantu penyerapan produksi peternak secara terukur dengan tetap memperhatikan standar kualitas, keamanan pangan, harga dan aturan pengadaan.
Produksi telur yang tinggi sebenarnya bukan masalah.
Masalah muncul ketika produksi, kebutuhan dan penyerapan pasar tidak berjalan dalam keseimbangan.
Jangan sampai kita berhasil mendorong masyarakat memproduksi lebih banyak pangan, tetapi lupa memastikan siapa yang akan membeli hasil produksinya.
Sebab keberhasilan ketahanan pangan bukan hanya tentang seberapa banyak telur yang mampu dihasilkan.
Keberhasilan juga harus dilihat dari satu pertanyaan sederhana:
Apakah peternak yang memproduksinya masih bisa hidup dan mendapatkan keuntungan yang layak?
Redaksi Narative.id


▶
▶
▶
▶
▶




Narative.id Jawa Timur · Wisata, Kuliner & Budaya
Narative.id Jawa Timur · Lingkungan & Bencana
Narative.id Jawa Timur · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Ekonomi & Usaha
Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR