NARATIVE.ID · Network of Local News
ADVERTISEMENTtes4
Sejarah & Budaya

Desa yang Hilang di Balik Gunung Pengamun-amun, Kisah Leggetang yang Masih Hidup dalam Ingatan Warga

NARATIVE.ID — Nama Leggetang masih hidup dalam cerita warga, meski permukiman yang disebut pernah berdiri di kawasan itu telah lama hilang.Muhammad Misrun masih mengingat kisah…
Lanskap kawasan Monumen Dusun Legentang di Banjarnegara dengan latar perbukitan dan lahan pertanian warga.
Lanskap kawasan Monumen Dusun Legentang di Banjarnegara dengan latar perbukitan dan lahan pertanian warga. · Foto: Dok. Narative.id / Istimewa
NARATIVE.ID — Nama Leggetang masih hidup dalam cerita warga, meski permukiman yang disebut pernah berdiri di kawasan itu telah lama hilang.

Muhammad Misrun masih mengingat kisah yang ia dengar sejak lama tentang desa tersebut.

“Yang pernah saya dengar, dulu pada tahun 1955 terjadi tragedi yang sangat memilukan,” tutur Misrun.

Ia bercerita, pada malam kejadian, tanah dari Gunung Pengamun-amun longsor dan menimpa permukiman.

“Pada malam hari itu tertimpa tanah longsoran dari Gunung Pengamun-amun,” katanya.

Dalam cerita yang diwariskan kepadanya, kehidupan warga Leggetang sebelum tragedi tidak hanya dikenang sebagai kehidupan masyarakat desa biasa. Ada pula kisah tentang perilaku warga yang kemudian berkembang menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat setempat.

Misrun menyebut cerita mengenai perjudian, hubungan tidak pantas, hingga tempat ibadah yang disebut pernah disalahgunakan.

Cerita itu kemudian membentuk keyakinan sebagian warga bahwa bencana bukan sekadar peristiwa alam, tetapi juga sebuah peringatan.

“Tugu ini dibangun sebagai peringatan saja, bahwa di sini dulu pernah ada desa,” kata Misrun.

Dalam kepercayaan yang ia warisi, tragedi tersebut bahkan dimaknai sebagai akibat dari perilaku manusia.

Versi lain datang dari Isnurhadi, warga yang terlibat dalam lembaga desa.

Ia menggambarkan Leggetang sebagai kawasan pertanian yang tumbuh dari pengembangan desa sekitar tahun 1931.

“Masyarakat di Leggetang itu masyarakat petani. Mata pencarian umumnya petani,” ujarnya.

Tembakau menjadi tanaman utama, kemudian bergantian dengan jagung.

Namun kehidupan desa itu, menurut Isnurhadi, tidak berlangsung lama.

“Tahun 1931 desa itu didirikan. Kemudian pada tahun 1955 terjadi musibah, longsor,” katanya.

Cerita yang berkembang menyebut tanda-tanda alam sebenarnya sudah dirasakan jauh sebelum malam bencana.

Isnurhadi menuturkan bagaimana hewan-hewan disebut mulai turun menuju permukiman dan suara burung terdengar berbeda.

“Sebelum itu terjadi, sebetulnya tanda-tanda alam sudah kelihatan. Ada hewan-hewan yang turun ke pemukiman, kemudian ada suara burung yang nyaring,” tuturnya.

Warga kemudian mencoba membaca tanda itu dengan cara mereka sendiri.

Sebagian naik ke kawasan atas dan menemukan retakan tanah.

“Masyarakat di situ antisipasi. Dibuatlah parit di bawahnya,” kata Isnurhadi.

Harapannya sederhana: jika tanah bergerak, parit tersebut dapat menahan atau mengalihkan longsoran sebelum mencapai permukiman.

Namun menurut cerita warga, yang terjadi kemudian berbeda dari perkiraan mereka.

Misrun menggambarkan longsoran seperti mampu melewati sungai sebelum menghantam desa.

“Yang terjadi itu beda dengan yang diharapkan. Tanah itu longsor, kemudian bisa melewati sungai yang ada di situ, lalu menimpa desa,” kenangnya.

Pagi setelah kejadian, kabar tragedi menyebar.

Ayah Misrun termasuk orang yang datang untuk membantu.

“Bapak saya karena anggota kepanduan, jadi punya tanggung jawab membantu sesama. Kemudian berangkat ke sini,” katanya.

Misrun kemudian menceritakan kisah evakuasi yang ia dengar dari ayahnya.

Salah satu korban yang terlihat disebut sebagai pengantin baru yang tertimpa atap rumah dan tanah.

Korban sempat hendak ditarik.

Namun longsoran kembali turun.

“Tanah yang dari atas itu runtuh kembali. Para evakuator mundur,” ujarnya.

Menurut cerita yang diterimanya, upaya evakuasi kemudian tidak membuahkan hasil.

“Tak satu pun jenazah yang terangkat,” kata Misrun.

Puluhan tahun berlalu, cerita mengenai Leggetang tidak ikut terkubur.

Sebagian warga bahkan masih mengaitkan kawasan itu dengan kisah-kisah tak kasatmata setelah tragedi.

Misrun menganggap cerita semacam itu sesuatu yang wajar berkembang di tempat yang pernah menjadi lokasi bencana besar.

“Kalau masih baru, mungkin satu dua bulan sampai satu tahun, ya wajar,” katanya ketika ditanya mengenai pengalaman-pengalaman ganjil yang diceritakan warga.

Baginya, kisah Leggetang juga menyimpan pesan moral.

“Dengan kejadian di Desa Leggetang ini, hikmahnya sebagai pengingat untuk kita semuanya,” ujarnya.

Ia berharap cerita tersebut tetap menjadi pengingat bagi generasi berikutnya untuk menjauhi perbuatan yang dianggap buruk.

Hari ini, Leggetang hidup dalam bentuk yang berbeda.

Bukan lagi sebagai deretan rumah, ladang tembakau, atau jagung.

Ia hidup sebagai cerita.

Cerita mengenai desa, gunung, retakan tanah, longsor, korban, tugu, dan keyakinan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan selama cerita itu masih dituturkan, Leggetang belum benar-benar hilang.

Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Reporter / Redaksi NARATIVE.ID

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

Sucy Sanggar PSB ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT