FEATURED EDITORIAL | NARATIVE.ID
Narative.id, - Ada tanggal-tanggal yang hanya lewat di kalender. Ada pula tanggal yang membawa ingatan, luka, dan pertanyaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
1 Oktober adalah salah satunya.
Setiap tahun, bangsa Indonesia memperingatinya sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Bendera dikibarkan. Upacara dilaksanakan. Nama-nama para Pahlawan Revolusi kembali disebut. Di Lubang Buaya, Jakarta, negara mengenang sebuah malam ketika politik, kekuasaan, senjata, dan ketakutan bertemu dalam salah satu titik paling menentukan dalam sejarah Indonesia.
Tetapi enam dekade lebih telah berlalu.
Anak-anak yang kini duduk di sekolah tidak mengalami masa itu. Generasi muda mengenalnya dari buku sejarah, film dokumenter, arsip, cerita orang tua, dan berbagai penelitian yang terus berkembang.
Lalu pertanyaannya: apa yang masih harus kita bawa dari 1 Oktober untuk Indonesia hari ini?
Jawabannya mungkin bukan sekadar mengingat siapa melawan siapa.
Jawabannya adalah memahami betapa rapuhnya sebuah bangsa ketika perbedaan politik kehilangan batas kemanusiaan.
Malam ketika Republik berada di persimpangan
Pada malam 30 September menuju 1 Oktober 1965, Jakarta memasuki salah satu malam paling gelap dalam perjalanan republik.
Sejumlah pimpinan Angkatan Darat diculik. Sebagian kemudian ditemukan meninggal dunia. Dalam hitungan jam, ketegangan politik yang sebelumnya sudah tinggi berubah menjadi krisis negara.
Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September.
Apa yang terjadi sesudahnya jauh lebih besar daripada satu operasi penculikan.
Indonesia mengalami perubahan politik besar-besaran. Peta kekuasaan berubah. Hubungan antarkelompok masyarakat terguncang. Kekerasan menyebar di berbagai daerah. Banyak keluarga kehilangan orang-orang yang mereka cintai.
Sejarah kemudian mencatat 1965 bukan semata sebagai pergantian kekuasaan.
Ia menjadi luka nasional.
Dan seperti banyak luka besar dalam sejarah, penjelasan mengenai peristiwa itu tidak berhenti dalam satu versi.
Penelitian, arsip, kesaksian, serta kajian akademik terus membuka lapisan-lapisan baru mengenai apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang terlibat, bagaimana keputusan-keputusan politik dibuat, serta bagaimana kekerasan kemudian menyebar.
Tetapi ada satu pelajaran yang nyaris tidak berubah.
Ketika politik kehilangan kemanusiaan, seluruh bangsa bisa membayar harganya.
Pancasila lahir untuk menjaga rumah bersama
Indonesia sejak awal memang bukan negara yang dibangun dari satu warna.
Negeri ini terdiri atas ribuan pulau, ratusan kelompok etnis, bahasa, tradisi, serta keyakinan.
Indonesia lahir bukan karena semua orang sama.
Indonesia lahir karena orang-orang yang berbeda sepakat tinggal dalam satu rumah.
Rumah itu bernama Republik Indonesia.
Pancasila kemudian menjadi fondasinya.
Karena itu, makna Pancasila sebenarnya jauh melampaui sebuah teks yang dibacakan saat upacara.
Ia adalah kesepakatan dasar agar perbedaan tidak berubah menjadi perang.
Ketuhanan memberi ruang bagi manusia untuk menjalankan keyakinannya.
Kemanusiaan mengingatkan bahwa lawan politik tetap manusia.
Persatuan menempatkan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Kerakyatan mengajarkan bahwa kekuasaan harus diputuskan melalui mekanisme bersama.
Dan keadilan sosial menjadi janji bahwa republik ini tidak hanya dibangun untuk mereka yang kuat.
Kelima sila itu sederhana ketika dibaca.
Tetapi sangat berat ketika harus dijalankan.
Kesaktian bukan berarti Pancasila tidak pernah diuji
Kata “kesaktian” sering membuat Pancasila seolah memiliki kekuatan yang berdiri sendiri.
Padahal sejarah justru menunjukkan sebaliknya.
Pancasila berkali-kali diuji.
Ia diuji ketika bangsa ini menghadapi pemberontakan.
Ia diuji ketika terjadi konflik politik.
Ia diuji ketika masyarakat terbelah.
Ia diuji ketika kepentingan kekuasaan mengalahkan kepentingan rakyat.
Dan hari ini, bentuk ujiannya berubah.
Tidak selalu berupa senjata.
Kadang ia hadir dalam kabar bohong yang sengaja disebarkan.
Kadang berbentuk ujaran kebencian.
Kadang muncul sebagai politik identitas.
Kadang tumbuh melalui ketimpangan sosial.
Kadang hadir ketika hukum dirasakan tajam kepada sebagian orang, tetapi tumpul terhadap yang lain.
Kadang justru muncul dalam kehidupan sehari-hari ketika kita mulai merasa bahwa orang yang berbeda pilihan adalah musuh.
Ancaman terhadap persatuan bangsa tidak selalu datang dalam bentuk gerakan besar.
Ia sering dimulai dari hal kecil.
Dari kata-kata.
Dari kebencian.
Dari prasangka.
Dari ketidakadilan yang dibiarkan.
Jangan wariskan kebencian
Generasi yang hidup hari ini memiliki satu tanggung jawab yang mungkin jauh lebih berat daripada sekadar menghafalkan sejarah.
Mereka harus belajar dari sejarah tanpa mewarisi kebenciannya.
Peristiwa 1965 memang harus dipelajari.
Para korban harus dikenang.
Para Pahlawan Revolusi harus dihormati.
Tetapi penghormatan terhadap sejarah tidak seharusnya berubah menjadi alasan untuk terus menanamkan permusuhan antargenerasi.
Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang melupakan luka.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menatap lukanya, mempelajarinya, lalu memastikan kesalahan yang sama tidak terulang.
Sejarah seharusnya menjadi cermin.
Bukan senjata.
Dari sejarah kita belajar bahwa kekuasaan tanpa kontrol dapat berbahaya.
Dari sejarah kita belajar bahwa ideologi yang dipaksakan dengan kekerasan dapat menghancurkan masyarakat.
Dari sejarah pula kita belajar bahwa kebencian yang dibiarkan tumbuh akan selalu menemukan korbannya.
Kesaktian Pancasila ada pada rakyatnya
Setelah upacara 1 Oktober berakhir, setelah barisan dibubarkan, setelah pidato selesai dibacakan, Pancasila kembali menghadapi ujian sebenarnya.
Bukan di lapangan upacara.
Tetapi di kehidupan sehari-hari.
Ia diuji di ruang pelayanan publik.
Ia diuji di kantor pemerintahan.
Ia diuji di ruang sidang.
Ia diuji di jalanan.
Ia diuji di media sosial.
Ia diuji ketika seorang pejabat harus memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan masyarakat.
Ia diuji ketika penegak hukum harus menentukan apakah semua orang benar-benar setara di depan hukum.
Ia diuji ketika warga berbeda agama membangun rumah berdampingan.
Ia diuji ketika dua kelompok berbeda pilihan politik tetap bisa duduk dalam satu meja.
Di situlah kesaktian Pancasila sesungguhnya berada.
Bukan pada seberapa sering ia disebut.
Tetapi pada seberapa sungguh-sungguh ia dijalankan.
Sebuah peringatan untuk republik
Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar hari untuk menengok masa lalu.
Ia seharusnya menjadi peringatan untuk masa depan.
Bahwa Indonesia terlalu besar untuk dikorbankan demi kepentingan kelompok.
Terlalu mahal untuk dihancurkan oleh kebencian politik.
Terlalu berharga untuk dipertaruhkan dalam perebutan kekuasaan.
Generasi 1965 meninggalkan sejarah yang berat kepada kita.
Tugas generasi hari ini bukan mengulang pertengkarannya.
Tugas kita adalah mengambil pelajarannya.
Bahwa republik hanya akan bertahan jika hukum dihormati.
Jika kekuasaan dibatasi.
Jika perbedaan dilindungi.
Jika keadilan diperjuangkan.
Dan jika seluruh anak bangsa tetap percaya bahwa mereka memiliki tempat yang sama di negeri ini.
Mungkin di situlah makna paling dalam dari Hari Kesaktian Pancasila.
Bukan karena Pancasila tidak pernah diguncang.
Melainkan karena setiap kali republik berada dalam krisis, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu pilihan mendasar:
tetap hidup bersama dalam perbedaan, atau membiarkan perbedaan menghancurkan rumah yang sama-sama kita bangun.
Dan selama pilihan pertama masih kita jaga, selama itu pula Pancasila akan tetap hidup.
— Redaksi Narative.id


▶
▶
▶
▶
▶
▶

Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Ekonomi & Usaha
Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Pendidikan

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR