Oleh Wisnu Murti Indra Raharjo — Wirausaha Sosial,Praktisi Koperasi,Seniman
Selama ini kita sering membicarakan pendidikan dan dunia usaha dalam dua ruang yang berbeda. Sekolah adalah tempat belajar, dunia usaha adalah tempat bekerja. Sekolah menyiapkan lulusan, perusahaan menerima tenaga kerja. Hubungan keduanya kemudian disebut link and match.
Gagasan itu penting. Tapi setelah beberapa waktu terlibat langsung dalam membangun bisnis, koperasi, komunitas, dan berbagai kegiatan masyarakat, saya mulai melihat ada sesuatu yang belum selesai. Bagaimana jika sekolah tidak hanya mengenalkan dunia kerja, tapi juga membuka akses peserta didik kepada institusi ekonomi yang hidup di lingkungan mereka?
Pertanyaan itu sekarang sedang kami coba jawab melalui kolaborasi strategis antara Koperasi Multi Pihak Banyu Suci Perwitasari (KMP BSP) dengan SMAN 1 Bantarbolang, Pemalang. Bagi saya, ini bukan sekadar kerja sama antara sekolah dan koperasi — ini sebuah eksperimen kecil, sebuah upaya untuk menguji apakah institusi ekonomi lokal dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan.
Sekolah dan kehidupan nyata
Seorang anak bisa belajar ekonomi selama bertahun-tahun tanpa pernah melihat bagaimana sebuah usaha benar-benar berjalan. Ia dapat mengetahui definisi produksi, memahami arti distribusi, mempelajari permintaan dan penawaran, menghafal istilah kewirausahaan — tapi belum tentu pernah menghitung apakah sebuah usaha benar-benar menghasilkan keuntungan, melihat bagaimana harga sebuah produk terbentuk, berhadapan dengan pemasok, melayani konsumen, atau membuat konten untuk menjual sesuatu. Belum tentu pula ia pernah melihat bagaimana pakan ayam diproduksi, bagaimana telur dihasilkan, atau bagaimana sebuah usaha pertanian berhubungan dengan pasar.
Padahal ekonomi bukan sekadar teori. Ekonomi adalah kehidupan sehari-hari — di dalamnya ada manusia, kebutuhan, modal, tenaga kerja, teknologi, risiko, keputusan, konflik, dan harapan. Karena itu, saya mulai berpikir bahwa pendidikan akan jauh lebih kuat jika peserta didik dapat sesekali keluar dari ruang kelas dan masuk ke dalam ruang ekonomi yang sebenarnya. Bukan untuk menggantikan sekolah, tapi untuk membuat apa yang dipelajari di sekolah memiliki hubungan dengan kenyataan.
Koperasi sebagai ruang belajar
Ketika kami membangun KMP BSP, kami tidak hanya membayangkannya sebagai badan usaha. Koperasi memiliki kemungkinan yang lebih luas. Di dalamnya ada bisnis, anggota, pengelola, modal, transaksi, tata kelola, keputusan, risiko, hubungan dengan masyarakat, dan persoalan kepemilikan. Dengan kata lain, koperasi memiliki hampir seluruh unsur yang dibutuhkan seseorang untuk belajar memahami institusi ekonomi.
Maka ketika ada kesempatan membangun kolaborasi strategis dengan SMAN 1 Bantarbolang, pertanyaan kami bukan hanya "Kegiatan apa yang dapat kami berikan kepada siswa?" Pertanyaan yang lebih penting adalah: "Ruang apa yang dapat kami buka agar mereka belajar dari kenyataan?" Dari pertanyaan itu, kolaborasi mulai bergerak ke berbagai arah.
Belajar budaya bukan sekadar belajar seni
Salah satu program yang berjalan adalah kegiatan kokurikuler kesenian. Peserta didik akan berlatih gamelan di Sanggar Budaya Kustoro Raharjo, yang merupakan bagian dari unit usaha KMP BSP. Sekilas, ini mungkin terlihat tidak berhubungan dengan pendidikan ekonomi — justru di situlah menariknya.
Saya tidak melihat manusia hanya sebagai economic animal. Sebuah institusi ekonomi hidup di tengah kebudayaan. Kemampuan bekerja bersama, mendengarkan orang lain, memahami peran, menjaga ritme, disiplin, dan menghargai warisan pengetahuan juga merupakan bagian dari kapasitas manusia untuk membangun institusi.
Dalam gamelan, seseorang tidak harus menjadi suara paling keras. Ia harus mengetahui kapan memainkan instrumennya, mendengar pemain lain, memahami keseluruhan komposisi, dan menjaga ritme. Ada individualitas, tapi ada pula keteraturan bersama — bukankah prinsip semacam itu juga dibutuhkan dalam sebuah organisasi? Karena itu, ketika seorang peserta didik belajar gamelan, saya tidak ingin ia hanya pulang dengan kemampuan memainkan instrumen. Saya ingin ia memahami bahwa kebudayaan juga merupakan cara manusiabelajar hidup bersama.
Dari festival literasi ke pengalaman publik
Peserta didik SMAN 1 Bantarbolang juga telah dilibatkan dalam Festival Literasi Pemalang 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pemalang. Ini juga penting, sebab literasi jangan dipersempit menjadi kemampuan membaca buku. Literasi berarti kemampuan memahami dunia — membaca teks, membaca informasi, membaca manusia, membaca lingkungan, membaca persoalan, bahkan membaca bagaimana sebuah masyarakat bekerja.
Ketika peserta didik masuk ke ruang publik melalui festival literasi, mereka tidak lagi hanya menjadi penerima pendidikan — mereka mulai menjadi bagian dari ekosistem sosial. Di sinilah saya melihat hubungan antara literasi dan ekonomi: seseorang yang tidak mampu membaca realitas akan sulit membangun institusi, karena institusi selalu dimulai dari kemampuan melihat masalah yang nyata.
Kemudian kami masuk ke dunia digital
Melalui BSP Media, peserta didik akan belajar digital marketing. Ini bukan sekadar belajar membuat konten untuk media sosial. Mereka dapat belajar bagaimana sebuah produk berkomunikasi dengan pasar, bagaimana sebuah merek dibangun, bagaimana konsumen mengambil keputusan, bagaimana konten menghasilkan perhatian, bagaimana perhatian dapat dikonversi menjadi transaksi, dan bagaimana data digunakan untuk mengevaluasi strategi.
Di sini sebuah smartphone yang selama ini mungkin hanya digunakan untuk konsumsi konten dapat berubah fungsi menjadi alat produksi ekonomi. Anak muda tidak hanya menjadi konsumen platform digital — mereka belajar menjadi pencipta nilai di dalamnya.
Kemudian kami membawa mereka ke peternakan
Melalui BSP Agritama, peserta didik akan belajar kewirausahaan dari sektor yang sangat konkret: peternakan ayam petelur. Saya sengaja menyukai bentuk pembelajaran semacam ini, karena seekor ayam tidak peduli dengan teori kewirausahaan. Ia makan, tumbuh, dan bertelur. Pakan harus tersedia, kandang harus dikelola, kesehatan harus dijaga, telur harus dijual, harga harus dihitung, biaya harus dikendalikan. Kalau salah menghitung, bisnis rugi. Sederhana — tapi justru karena sederhana, ia menjadi pendidikan ekonomi yang sangat nyata.
Peserta didik dapat mulai melihat bahwa kewirausahaan bukan hanya keberanian membuat usaha. Kewirausahaan adalah kemampuan mengelola sistem nilai: ada input, proses, output, biaya, pasar, risiko, dan margin — dan semuanya saling berhubungan.
Dari ayam menuju pabrik pakan
Ekosistemnya bahkan tidak berhenti di peternakan. BSP Agritama juga mengembangkan sektor pabrik pakan ayam, bekerja sama dengan kelompok tani di Desa Kebon Gede. Di sini peserta didik dapat melihat sesuatu yang sering hilang dalam pembelajaran bisnis: rantai nilai.
Ayam membutuhkan pakan, pakan membutuhkan bahan baku, bahan baku berasal dari produksi pertanian, produksi pertanian membutuhkan petani, petani membutuhkan pasar, peternak membutuhkan pakan, dan konsumen membutuhkan telur. Di antara semua itu terdapat aktivitas ekonomi — ada nilai yang diciptakan, biaya yang muncul, margin, distribusi, dan hubungan antarpelaku.
Dengan melihat rantai seperti ini, anak tidak hanya belajar bagaimana menjual produk. Mereka belajar bertanya: di mana nilai sebenarnya diciptakan, siapa yang menangkap nilai terbesar, apa yang dapat diproduksi di daerah sendiri, dan berapa banyak nilai ekonomi yang dapat tinggal di desa. Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan itu merupakan awal dari pendidikan ekonomi yang sesungguhnya.
Inilah yang saya maksud dengan laboratorium ekonomi
Saya tidak ingin menjadikan KMP BSP sebagai sekolah. Sekolah tetap sekolah, guru tetap memiliki peran utama sebagai pendidik, dan kurikulum tetap menjadi kerangka pembelajaran. Koperasi tidak boleh mengambil alih fungsi sekolah. Tapi koperasi dapat membuka pintu menuju laboratorium kehidupan ekonomi, tempat siswa dapat menguji apa yang dipelajari — belajar digital marketing melalui bisnis nyata, kewirausahaan melalui peternakan, rantai pasok melalui produksi pakan, kebudayaan melalui gamelan, literasi melalui keterlibatan di ruang publik, dan pada saat yang sama belajar tentang koperasi sebagai institusi yang menghubungkan semua aktivitas tersebut.
Inilah yang saya bayangkan sebagai living laboratory — bukan laboratorium yang dibuat khusus untuk pendidikan, melainkan kehidupan nyata yang sengaja dibuka sebagai ruang pendidikan.
Dari Link and Match menuju Create and Own
Saya kira kita perlu sedikit memperluas gagasan link and match. Selama ini kita bertanya: apa yang dibutuhkan dunia kerja dari sekolah? Pertanyaan itu penting. Tapi saya ingin menambahkan: institusi ekonomi seperti apa yang dapat dibangun oleh manusia yang keluar dari sekolah?
Perbedaannya terlihat kecil, tapi dampaknya besar. Jika pendidikan hanya disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, siswa terutama dipersiapkan menjadi tenaga kerja. Jika pendidikan juga memperkenalkan kepemilikan, kewirausahaan, koperasi, tata kelola, dan penciptaan nilai, siswa memiliki kemungkinan yang lebih luas — ia dapat menjadi pekerja, profesional, pengusaha, pengelola koperasi, inovator, pemilik, atau menggabungkan semuanya sekaligus.
Maka saya membayangkan sebuah evolusi: dari Link and Match, menjadi Learn and Do, kemudian Create and Own. Belajar, mempraktikkan, menciptakan nilai, dan memahami siapa yang memiliki nilai tersebut.
Bantarbolang sebagai eksperimen kecil
Karena itu, saya tidak ingin terlalu cepat mengatakan bahwa model ini sudah berhasil. Belum — kami baru memulainya. Justru karena itu, saya melihatnya sebagai eksperimen kelembagaan. SMAN 1 Bantarbolang memiliki lingkungan pendidikan; KMP BSP memiliki beberapa ruang usaha — sanggar budaya, media, agribisnis, peternakan, pengembangan pakan, hubungan dengan kelompok tani, dan pengalaman menyelenggarakan kegiatan masyarakat. Semua elemen itu sekarang dicoba dihubungkan.
Pertanyaannya kemudian sederhana: apakah hubungan ini benar-benar menghasilkan pembelajaran? Apakah siswa memperoleh kompetensi, guru mendapatkan metode baru, praktisi bisnis belajar menjadi mentor? Apakah bisnis dapat menjadi ruang pendidikan tanpa kehilangan profesionalismenya? Apakah siswa dapat menghasilkan karya nyata, memahami ekonomi daerahnya, dan melihat kemungkinan masa depan di tempat asalnya? Pertanyaan-pertanyaan itu yang harus dijawab oleh data — bukan oleh seremoni penandatanganan MOU.
Jika berhasil, yang diwariskan bukan program
Inilah alasan saya melihat kerja sama ini lebih besar daripada satu sekolah. Jika eksperimen Bantarbolang berhasil, yang seharusnya kita wariskan bukan daftar kegiatan — bukan "sekolah melakukan kunjungan ke koperasi", bukan "siswa mengikuti seminar kewirausahaan", dan bukan pula "sekolah memiliki MOU dengan dunia usaha". Yang harus diwariskan adalah modelnya:
SEKOLAH menyediakan pendidikan akademik → INSTITUSI EKONOMI LOKAL menyediakan ruang praktik → MASYARAKAT menyediakan persoalan nyata → PESERTA DIDIK mencari solusi dan menciptakan nilai → DATA mengukur hasil → PEMBELAJARAN memperbaiki model → INSTITUSI menjadi semakin kuat.
Jika suatu hari model ini dapat diterapkan oleh koperasi lain dengan sekolah lain, maka kita tidak lagi berbicara tentang program KMP BSP. Kita mulai berbicara tentang arsitektur pendidikan ekonomi lokal.
Koperasi mungkin harus menjadi sekolah kedua
Saya tidak menggunakan istilah "sekolah kedua" untuk menggantikan sekolah, melainkan untuk menggambarkan fungsi yang berbeda. Sekolah mengajarkan manusia memahami pengetahuan; koperasi dapat mengajarkan manusia memahami bagaimana pengetahuan itu bekerja dalam kehidupan ekonomi bersama.
Di sekolah, anak belajar tentang ekonomi — di koperasi, ia melihat ekonomi bergerak. Di sekolah, ia belajar komunikasi — di BSP Media, ia berhadapan dengan pasar. Di sekolah, ia belajar kewirausahaan — di BSP Agritama, ia melihat biaya, produksi, risiko, dan transaksi. Di sekolah, ia belajar kebudayaan — di sanggar, ia belajar memainkan gamelan bersama orang lain. Di sekolah, ia belajar menjadi warga negara — di ruang publik, ia belajar mengambil bagian dalam masyarakat.
Barangkali pendidikan terbaik bukan memilih antara sekolah dan kehidupan, melainkan menghubungkan keduanya.
Kita sedang menguji sebuah pertanyaan
Pada akhirnya, saya tidak ingin kolaborasi KMP BSP dan SMAN 1 Bantarbolang hanya dikenang sebagai sebuah MOU. Saya ingin melihatnya sebagai sebuah pertanyaan yang sedang diuji: bisakah sebuah institusi ekonomi lokal ikut menjadi ruang pendidikan bagi generasi yang kelak akan membangun daerahnya?
Kami belum memiliki jawabannya. Tapi kami sudah mulai mencobanya — di ruang kelas, di festival literasi, di sanggar gamelan, di depan layar komputer, di ruang pemasaran, di kandang ayam, di tempat produksi pakan, di tengah kelompok tani, di dalam aktivitas ekonomi yang sebenarnya.
Sebab mungkin pendidikan tidak harus selalu membawa anak menjauh dari kehidupan nyata agar mereka menjadi manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan. Kadang-kadang, pendidikan justru harus membawa mereka lebih dekat kepada kenyataan.
Dan jika sebuah koperasi memiliki keberanian untuk membuka pintunya, mungkin koperasi tidak hanya menjadi tempat orang melakukan transaksi. Ia dapat menjadi tempat generasi muda belajar bagaimana bekerja, bagaimana mencipta, bagaimana bekerja bersama, bagaimana memiliki, dan akhirnya bagaimana membangun institusi yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.


▶
▶
▶
▶
▶
▶





Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Ekonomi & Usaha
Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Pendidikan

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR