Oleh : Wisnu Murti Indra Raharjo
NARATIVE.ID, - Kita sering membayangkan koperasi sebagai persoalan manajemen. Ketika ingin membangun koperasi, kita mencari manajer, bicara tentang business plan, modal kerja, omzet, margin, laporan keuangan, rantai pasok, teknologi, digitalisasi, dan efisiensi. Semua itu penting. Tapi ada satu persoalan yang sering luput: bagaimana membuat manusia mau hidup di dalam sebuah institusi ekonomi bersama?
Sebab koperasi tidak hanya membutuhkan kemampuan mengelola bisnis. Ia juga membutuhkan kepercayaan, kebiasaan, nilai, imajinasi, dan rasa memiliki. Di titik itulah saya mulai berpikir: mungkin koperasi tidak hanya membutuhkan manajer — koperasi juga membutuhkan seniman. Bukan karena koperasi harus menjadi organisasi kesenian, tapi karena koperasi bukan hanya persoalan ekonomi. Ia juga persoalan manusia dan kebudayaan.
Koperasi membutuhkan perubahan perilaku
Lihat apa yang sebenarnya diminta koperasi dari anggotanya: membeli bersama, menjual bersama, menghimpun modal bersama, mengambil keputusan bersama, menanggung risiko bersama, menggunakan aset bersama, dan membagi manfaat berdasarkan mekanisme yang disepakati bersama. Semua itu dapat dituangkan dalam aturan — tapi aturan tidak otomatis menghasilkan perilaku.
Koperasi pada dasarnya meminta manusia bergerak dari "saya sendiri" menjadi "kita bersama". Dari konsumen menjadi pemilik. Dari pemilik pasif menjadi partisipan. Dari transaksi individual menjadi tindakan ekonomi kolektif. Perubahan seperti ini tidak selesai melalui pelatihan satu hari — ia terbentuk melalui pengalaman yang berulang. Karena itu, koperasi tidak cukup diajarkan. Koperasi harus dialami.
Koperasi sebagai strategi kebudayaan
Di sinilah saya melihat koperasi dari perspektif yang berbeda. Koperasi bukan hanya strategi ekonomi — ia juga dapat menjadi strategi kebudayaan, sebab kebudayaan menentukan bagaimana manusia memahami kepemilikan, kepercayaan, kerja sama, kepentingan bersama, dan cara hidup bersama.
Kalau koperasi ingin bertahan lintas generasi, nilai-nilainya tidak cukup ditulis dalam AD/ART. Anggota harus mengalami kepemilikan, mengalami partisipasi, mengalami manfaat kerja sama, mengalami proses mengambil keputusan bersama. Dari pengalaman itu lahir kebiasaan, dan dari kebiasaan, nilai menjadi semakin melekat. Maka pendidikan koperasi seharusnya tidak hanya berbentuk seminar dan penyuluhan — rangkaiannya lebih panjang:
PENGETAHUAN → PENGALAMAN → KEBIASAAN → NILAI → KEBUDAYAAN
Dan di sinilah kesenian mulai menjadi relevan.
Kita sudah melihat bagaimana kebudayaan dapat menjadi kekuatan ekonomi
Korea Selatan memberikan contoh yang menarik. K-Pop, drama, film, gim, webtoon, fashion, makanan, kosmetik, dan bahasa Korea berkembang dalam fenomena yang dikenal sebagai Hallyu. Yang menarik bukan hanya popularitas musiknya, tapi bagaimana perhatian terhadap produk budaya dapat terhubung dengan industri lain — orang mengenal Korea melalui musik dan drama, lalu tertarik pada makanan, kosmetik, fashion, bahasa, dan pariwisatanya. Pemerintah Korea juga secara eksplisit mengembangkan kebijakan yang menghubungkan K-Content dengan ekspor dan sektor ekonomi terkait.
Dalam survei pemerintah Korea 2024 terhadap 26.400 responden di 28 wilayah, 22,1% menyebut kemunculan produk dalam film dan program televisi sebagai salah satu alasan pembelian produk atau jasa Korea. Dalam survei 2026 terhadap 27.400 konsumen di 30 wilayah, 69,7% responden menyatakan sikap positif terhadap konten budaya Korea, sementara 64,8% menyatakan Hallyu memengaruhi pembelian produk dan jasa Korea.
K-Pop tentu bukan satu-satunya penyebab keberhasilan ekonomi Korea Selatan, tapi ia menjadi salah satu mesin perhatian global yang terhubung dengan ekosistem ekonomi yang lebih luas. Mekanismenya menarik:
KESENIAN → PERHATIAN → KETERTARIKAN → CITRA → PREFERENSI → KONSUMSI → INDUSTRI
Pelajarannya bukan bahwa koperasi harus membuat K-Pop. Pelajarannya adalah: kebudayaan dapat menjadi bagian dari arsitektur ekonomi.
Hollywood menunjukkan mekanisme yang berbeda
Hollywood juga memberi pelajaran. Kita tidak perlu menyederhanakannya sebagai "alat Barat" — Hollywood adalah industri komersial dengan sejarah, kreativitas, teknologi, modal, dan jaringan distribusinya sendiri. Tapi film, musik, dan televisi Amerika telah lama menjadi bagian dari kekuatan budaya Amerika secara global.
Sebuah film tidak perlu mengatakan "percayalah kepada Amerika" — cukup tunjukkan kota, universitas, restoran, rumah, pakaian, mobil, bahasa, dan cara hidup. Penonton kemudian membangun gambaran sendiri. Cerita bekerja melalui imajinasi, dan itulah kekuatan kebudayaan. Ketika imajinasi tersebut bertemu dengan industri, distribusi, dan pasar, ia dapat menghasilkan kekuatan ekonomi sekaligus pengaruh sosial.
Nusantara sebenarnya memiliki pengalaman sendiri
Kita tidak perlu selalu melihat ke Korea atau Amerika. Dalam sejarah Islamisasi Jawa, wayang dan bentuk kebudayaan lokal menjadi bagian dari proses perjumpaan antara nilai Islam dengan tradisi yang telah hidup sebelumnya. Dalam tradisi populer, Walisongo sering dikaitkan dengan penggunaan medium budaya lokal, termasuk wayang, dalam dakwah.
Yang penting dari pendekatan ini bukan sekadar penggunaan wayang. Prinsip yang lebih menarik adalah: nilai baru tidak selalu harus datang dengan bentuk budaya yang baru. Ia dapat masuk melalui bahasa yang telah dipahami masyarakat. Cerita yang sudah dikenal dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan pertanyaan baru, dan simbol yang telah hidup dapat memperoleh makna baru. Kesenian menjadi jembatan antara nilai baru dan pengalaman lama. Ini juga relevan bagi koperasi.
Koperasi membutuhkan bahasa yang dipahami masyarakat
Kita sering memperkenalkan koperasi melalui bahasa administratif: AD/ART, rapat anggota, SHU, modal, simpanan, badan hukum, unit usaha. Semua diperlukan — tapi apakah bahasa tersebut cukup untuk membuat seorang anak muda merasa, "Saya ingin menjadi bagian dari koperasi?" Belum tentu.
Mungkin koperasi juga membutuhkan bahasa lain: cerita, musik, film, teater, komik, mural, festival, media digital, dan simbol budaya. Bukan untuk memanipulasi masyarakat agar menyukai koperasi, tapi untuk membuat gagasan tentang kepemilikan bersama, kerja sama, kemandirian ekonomi, dan keadilan dapat dibicarakan melalui bahasa yang dekat dengan kehidupan mereka.
Seni bukan propaganda koperasi
Di sini kita perlu berhati-hati. Jangan sampai gagasan ini berubah menjadi "kalau ingin koperasi besar, buatlah lagu tentang koperasi." Bukan itu persoalannya — seni yang baik tidak harus menjadi iklan.
Bayangkan sebuah film tentang seorang petani yang bekerja keras, tapi membeli input dengan harga tinggi dan menjual hasil produksinya dengan posisi tawar rendah. Film itu tidak perlu berkata, "Inilah alasan Anda harus masuk koperasi." Biarkan penonton bertanya sendiri: "Mengapa petani ini tidak memiliki posisi tawar yang lebih besar?" Lalu, "Apakah kekuatan ekonomi dapat dibangun secara individual?" Di sana koperasi memperoleh ruang sebagai gagasan yang perlu dipikirkan, bukan slogan yang harus diterima.
Karena itu seni tidak harus menjelaskan koperasi. Ia cukup membantu manusia melihat realitas yang membuat kebutuhan akan koperasi menjadi masuk akal.
Pendidikan koperasi juga perlu diperluas
Kalau demikian, pendidikan anggota tidak cukup menjawab "apa itu koperasi?" tapi juga "bagaimana menjadi manusia ekonomi yang mampu bekerja bersama?" Anak muda belajar tentang kepemilikan, petani memahami rantai nilai, pedagang memahami posisi tawar, pekerja memahami produktivitas dan pembagian nilai, dan anggota memahami bahwa dirinya bukan sekadar pembeli.
Semua ini dapat diajarkan melalui kelas — tapi dapat pula dialami melalui praktik, diceritakan melalui karya, dan diwariskan melalui kebudayaan. Di sinilah kesenian mempunyai fungsi yang khas: mengubah gagasan menjadi pengalaman, dan pengalaman menjadi ingatan.
Koperasi membutuhkan imajinasi sosial
Mungkin ini persoalan yang lebih besar. Kita mampu membayangkan toko, gudang, kantor, aplikasi. Tapi apakah kita mampu membayangkan masyarakat yang berubah karena koperasi?
Bagaimana kalau sebuah KDKMP memiliki sanggar budaya? Bagaimana kalau anak muda membuat film tentang ekonomi desanya? Bagaimana kalau petani membuat pertunjukan tentang perjalanan komoditas dari sawah sampai konsumen? Bagaimana kalau koperasi memiliki festival yang mempertemukan produsen, konsumen, seniman, dan pelaku usaha? Bagaimana kalau anak-anak belajar ekonomi melalui permainan dan cerita?
Di sini koperasi tidak lagi hanya menjadi tempat transaksi. Ia menjadi bagian dari ekosistem sosial masyarakat.
Tetapi kebudayaan bukan obat untuk semua masalah
Saya juga tidak ingin meromantisasi gagasan ini. Sebuah koperasi dengan lagu yang bagus tapi arus kasnya buruk tetap akan bermasalah. Festival tidak dapat menggantikan governance. Identitas budaya tidak dapat menggantikan kemampuan mengelola bisnis. Kesenian juga tidak otomatis mengubah perilaku.
Karena itu: kebudayaan tidak menggantikan manajemen. Ia melengkapinya.
Demikian pula, strategi kebudayaan tidak boleh dirancang sepenuhnya dari atas. Budaya bukan SOP — ia tumbuh dari pengalaman masyarakat sendiri. Karena itu biarkan anggota bercerita, biarkan seniman membaca realitas masyarakat, biarkan anak muda menciptakan bentuknya sendiri — dan bahkan biarkan karya seni mengkritik koperasi. Institusi yang sehat seharusnya tidak takut dikritik oleh kebudayaannya sendiri.
Dari business model menuju cultural model
Mungkin inilah perubahan cara berpikir yang perlu kita lakukan. Kita selama ini banyak bertanya, "apa business model koperasi?" Pertanyaan itu penting. Tapi mungkin ada pertanyaan lain: apa cultural model koperasi? Bagaimana koperasi membangun kebiasaan partisipasi? Bagaimana ia menumbuhkan rasa memiliki? Bagaimana nilai-nilainya dipelajari, diceritakan, dan diteruskan kepada generasi berikutnya? Bagaimana masyarakat membangun imajinasi bahwa kekuatan ekonomi dapat dimiliki dan dikelola secara bersama?
Di titik ini, peran berbagai profesi menjadi jelas. Manajer membangun kemampuan organisasi. Pendidik membangun pengetahuan. Teknolog membangun sistem. Seniman membangun ruang makna dan imajinasi. Anggota memberikan kehidupan. Koperasi membutuhkan semuanya.
Koperasi membutuhkan seniman
Karena itu saya kembali kepada judul tulisan ini: koperasi membutuhkan seniman, bukan hanya manajer. Bukan karena koperasi harus menjadi lembaga seni, dan bukan pula karena kesenian dapat menyelesaikan persoalan bisnis. Tapi karena koperasi mempunyai pekerjaan yang lebih besar daripada menjual barang dan menghasilkan surplus. Ia ingin membangun manusia yang mampu hidup dan bekerja bersama secara ekonomi. Untuk itu manusia membutuhkan pengetahuan, sistem, dan manajemen — tapi manusia juga membutuhkan makna.
K-Pop menunjukkan bagaimana budaya populer dapat terhubung dengan industri dan ekspor. Hollywood menunjukkan bagaimana cerita dapat membentuk imajinasi dan citra. Pengalaman wayang dalam sejarah Jawa menunjukkan bagaimana nilai dapat berinteraksi dengan kebudayaan yang telah hidup. Ketiganya bukan model yang dapat disalin begitu saja, tapi ketiganya mengajukan pertanyaan yang relevan: mengapa kita sering menganggap kebudayaan sebagai dekorasi ekonomi, padahal kebudayaan juga dapat menjadi infrastruktur ekonomi?
Mungkin koperasi perlu mulai memikirkan pertanyaan itu. Sebab institusi ekonomi yang ingin bertahan lintas generasi tidak hanya membutuhkan business model. Ia juga membutuhkan cultural model. Dan mungkin, justru di situlah pekerjaan para seniman dimulai.


▶
▶
▶
▶
▶





Narative.id Jawa Timur · Wisata, Kuliner & Budaya
Narative.id Jawa Timur · Lingkungan & Bencana
Narative.id Jawa Timur · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Ekonomi & Usaha
Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR