NARATIVE.ID · Network of Local News
ADVERTISEMENTtes4
Lingkungan & Bencana

Citra Satelit Gunung Slamet 2025–2026 Tunjukkan Perubahan Lereng, Presidium Soroti Longsoran di Hulu Sungai

Perbandingan citra satelit lereng selatan Gunung Slamet pada 22 September 2025 dan 22 September 2026 memperlihatkan perubahan kondisi permukaan kawasa…
Perbandingan citra satelit Sentinel Hub pada 22 September 2025 (atas) dan 22 September 2026 (bawah) memperlihatkan perubahan visual di lereng selatan Gunung Slamet. Presidium Gunung Slamet mengaitkan sejumlah area kecokelatan dengan longsoran di kawasan hulu mata air dan sungai kecil. (Dok. Sentinel Hub)
Perbandingan citra satelit Sentinel Hub pada 22 September 2025 (atas) dan 22 September 2026 (bawah) memperlihatkan perubahan visual di lereng selatan Gunung Slamet. Presidium Gunung Slamet mengaitkan sejumlah area kecokelatan dengan longsoran di kawasan hulu mata air dan sungai kecil. (Dok. Sentinel Hub) · Foto: Dok. Narative.id
NARATIVE.ID, Banyumas — Perbandingan citra satelit lereng selatan Gunung Slamet pada 22 September 2025 dan 22 September 2026 memperlihatkan perubahan kondisi permukaan kawasan pegunungan. Sejumlah area yang sebelumnya tampak hijau kini terlihat berwarna kecokelatan, terutama pada bagian lereng dan jalur aliran air.

Perubahan tersebut terlihat dari citra satelit melalui platform Sentinel Hub yang merekam kawasan Gunung Slamet pada bulan yang sama dengan selisih waktu satu tahun.

Pada citra September 2025, kawasan lereng didominasi tutupan vegetasi berwarna hijau. Sementara pada citra September 2026, sejumlah area terbuka berwarna cokelat terlihat di beberapa bagian lereng, membentuk pola memanjang mengikuti jalur aliran air.

Era Prima Nugraha dari Presidium Gunung Slamet menyebut perubahan tersebut berkaitan dengan longsoran yang terjadi di sejumlah kawasan hulu mata air dan sungai kecil.

"Itu perbandingan foto 1 tahun yang lalu di bulan yang sama, kalo tahun lalu itu masih hijau, kalo tahun sekarang itu sudah banyak yg gundul coklat2 itu, karena longsoran di beberapa hulu mata air sama sungai2 kecil," ujar Era Prima Nugraha.

Longsoran di kawasan hulu menjadi perhatian karena berhubungan dengan kondisi aliran sungai yang berhulu di lereng Gunung Slamet. Material tanah, batuan, dan vegetasi dari lereng yang mengalami longsor dapat masuk ke jalur sungai dan terbawa menuju kawasan hilir ketika debit air meningkat.

Kondisi tersebut berkaitan dengan pentingnya mitigasi potensi banjir bandang, terutama setelah kawasan Gunung Slamet mengalami bencana hidrometeorologi pada awal 2026.

Hujan berintensitas tinggi di kawasan pegunungan dapat meningkatkan aliran permukaan sekaligus membawa material dari lereng menuju sungai. Timbunan material di sepanjang alur sungai juga dapat memengaruhi kelancaran aliran air.

Perbandingan citra satelit September 2025 dan September 2026 menempatkan kondisi hulu mata air serta sungai-sungai kecil di lereng selatan Gunung Slamet sebagai bagian penting dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Pemetaan jalur sungai, penanganan material longsoran, dan pemantauan kawasan hulu menjadi langkah penting untuk mengantisipasi ancaman banjir bandang terhadap wilayah di bagian bawah lereng.

Perubahan visual yang terekam dalam rentang satu tahun tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya pemantauan kondisi kawasan Gunung Slamet secara berkelanjutan, terutama menjelang periode hujan dengan intensitas tinggi.
BAGIAN DARI NARATIVE.ID · SPECIAL COVERAGESLAMET — Menuju Taman Nasional
Bagian 09 · Wall of Voices
JELAJAHI LIPUTAN →

Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Reporter / Redaksi NARATIVE.ID

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

Sucy Sanggar PSB ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT