NARATIVE.ID · Network of Local News
ADVERTISEMENTtes4
Ekonomi & Usaha

Riri Bahar Putri: Dengan AI, KKMP Duren Sawit Bisa Bersaing dengan Perusahaan Besar

Berbekal pasar lokal yang besar, Ketua KKMP Duren Sawit melihat peluang membangun koperasi modern yang efisien, berbasis teknologi, dan berpotensi menjadi percontohan nasional.
Srikandi KopDesKel duren sawit, jakarta timur
Srikandi KopDesKel duren sawit, jakarta timur · Foto: Dok. Narative.id / Wisnu Murti Indra Raharjo

NARATIVE.ID, Jakarta — Bisakah koperasi yang tumbuh dari tingkat kelurahan bersaing dengan perusahaan besar? Bagi Riri Bahar Putri, Ketua Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Duren Sawit, jawabannya bukan sekadar soal besar atau kecilnya modal. Cara mengelola bisnis dan memanfaatkan teknologi juga akan menentukan.

Saat ditemui di gerai KKMP Duren Sawit, Selasa (20/10/2026), Riri berbicara tentang peluang membangun koperasi yang tidak hanya melayani kebutuhan warga, tetapi juga mampu berkembang menjadi perusahaan modern.

“Kalau kita mendirikan koperasi hanya untuk punya gerai, menurut saya sayang sekali. Kita harus berpikir lebih besar. Bagaimana koperasi ini bisa menjadi usaha yang kuat, melayani masyarakat, membuka peluang ekonomi, dan nantinya menjadi contoh bagi koperasi lain di Indonesia?”

Bagi Riri, cita-cita itu perlu berangkat dari sesuatu yang konkret: pasar yang tersedia di sekitar koperasi.

Pasar Lokal yang Tidak Kecil

Data Satudata Jakarta melalui Pendataan Potensi Desa/Kelurahan (Podes) 2024 mencatat Kelurahan Duren Sawit memiliki 77.794 penduduk dalam 24.455 keluarga. Wilayah seluas 4,65 kilometer persegi itu terbagi dalam 17 RW dan 180 RT.

Angka tersebut menunjukkan adanya basis konsumen potensial yang cukup besar untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Namun, jumlah penduduk bukan berarti seluruhnya otomatis menjadi pelanggan koperasi.

Peluang bisnis justru perlu ditemukan dengan memahami kebiasaan belanja warga: barang apa yang dibeli secara rutin, seberapa sering mereka berbelanja, di mana mereka biasa membeli, dan apa yang bisa ditawarkan koperasi dengan lebih baik.

“Kalau melihat jumlah keluarga di Duren Sawit, pasarnya tentu menarik. Tetapi kita tidak boleh langsung menganggap semua warga akan berbelanja di koperasi. Kita harus punya alasan yang membuat mereka mau datang kembali, misalnya harga yang kompetitif, barang yang dibutuhkan tersedia, pelayanan yang baik, dan proses belanja yang praktis.”

Simulasi sederhana menunjukkan bagaimana pasar tersebut dapat diterjemahkan menjadi peluang bisnis.

Jika 5 persen dari 24.455 keluarga menjadi pelanggan aktif, jumlahnya sekitar 1.223 keluarga. Dengan asumsi setiap keluarga bertransaksi rata-rata Rp300.000 per bulan, nilai transaksi kotor mencapai sekitar Rp367 juta per bulan.

Jika penetrasi pasar meningkat menjadi 10 persen, dengan asumsi transaksi yang sama, nilai transaksi kotor dapat mendekati Rp734 juta per bulan.

Angka itu bukan target penjualan resmi ataupun proyeksi laba KKMP. Ini ilustrasi untuk menunjukkan bahwa pasar lokal dapat dihitung dan diuji, bukan sekadar dibicarakan.

Dari sana, pertanyaan bisnis berikutnya menjadi lebih jelas: produk apa yang dibeli, berapa margin yang diperoleh, berapa biaya operasional, dan seberapa besar transaksi yang benar-benar bisa dipertahankan setiap bulan?

Bukan Sekadar Menambah Gerai

KKMP memiliki sejumlah bidang usaha yang menjadi perhatian, mulai dari gerai sembako, apotek atau gerai obat, klinik, simpan pinjam, gudang atau cold storage, hingga logistik.

Bagi Riri, bidang-bidang tersebut perlu dilihat sebagai peluang membangun ekosistem bisnis, bukan sekadar daftar unit yang harus segera dibuka.

“Misalnya, kita menjual sembako. Kita harus memikirkan dari mana barang diperoleh, bagaimana mendapatkan harga yang baik, bagaimana menjaga stok, dan bagaimana barang sampai kepada pelanggan. Kalau nanti ada layanan distribusi yang mendukung, kita harus menghitung apakah itu membuat bisnis lebih efisien.”

Pendekatan ini penting karena setiap unit memiliki kebutuhan modal, risiko, dan karakter pasar yang berbeda. Layanan kesehatan, misalnya, membutuhkan tenaga profesional serta pemenuhan perizinan. Unit simpan pinjam memerlukan pengendalian risiko dan likuiditas. Sementara itu, investasi gudang harus didukung volume permintaan yang cukup.

Artinya, peluang pasar yang besar tidak menjadi alasan untuk membuka semua unit secara bersamaan. Koperasi tetap perlu menentukan prioritas berdasarkan kelayakan dan kesiapan operasional.

AI Membuka Peluang bagi Tim Kecil

Salah satu gagasan yang menarik dalam pembicaraan tersebut adalah pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Selama ini, perusahaan besar memiliki keunggulan berupa modal, sumber daya manusia, sistem distribusi, dan pengalaman operasional. Namun, teknologi mulai memberi peluang bagi organisasi yang lebih kecil untuk menjalankan sebagian pekerjaan dengan lebih efisien.

“Sekarang kita punya AI. Kita bisa memanfaatkannya untuk membantu membaca data penjualan, membuat materi pemasaran, melayani pertanyaan pelanggan, sampai menyusun laporan. Jadi, kita harus belajar menggunakan teknologi sejak awal, bukan menunggu koperasinya besar dulu.”

Riri melihat tren One Person Company (OPC) sebagai inspirasi tentang bagaimana teknologi memungkinkan satu orang mengelola lebih banyak fungsi bisnis dengan bantuan otomatisasi.

Dalam konteks KKMP, pendekatan yang relevan bukan berarti semua pekerjaan harus dikerjakan satu orang. Yang lebih penting adalah membangun tim yang ramping, dengan sistem digital yang membantu setiap orang bekerja lebih produktif.

AI dapat membantu memperkirakan kebutuhan stok, mengenali produk yang paling laku, menyusun promosi berdasarkan segmen pelanggan, serta mengidentifikasi perubahan pola permintaan. Sistem pencatatan digital juga dapat membantu pengelola memantau transaksi dan arus kas lebih cepat.

“Kalau tim kita kecil tetapi didukung sistem yang baik, kita punya kesempatan bekerja lebih efisien. Tentu keputusan tetap harus diperiksa manusia. AI membantu kita bekerja, tetapi tanggung jawab pengelolaan tetap ada pada pengurus dan pengelola koperasi.”

Dengan pendekatan tersebut, teknologi bukan sekadar aksesori digital. Teknologi menjadi alat untuk menekan biaya, mempercepat keputusan, dan meningkatkan kualitas pelayanan.

Bersaing Tidak Harus Meniru Perusahaan Besar

Di sekitar Duren Sawit, masyarakat sudah memiliki banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk supermarket, minimarket, apotek, dan penyedia layanan lainnya.

Kondisi itu menunjukkan bahwa KKMP tidak memasuki pasar yang kosong. Koperasi harus bersaing dengan pelaku usaha yang telah memiliki pelanggan, jaringan pemasok, dan sistem operasional.

Karena itu, sekadar menjual produk yang sama belum tentu cukup.

“Perusahaan besar punya kelebihan, dan kita harus mengakui itu. Tetapi koperasi juga punya peluang sendiri karena dekat dengan masyarakat. Kita bisa lebih memahami kebutuhan lingkungan, membangun hubungan dengan warga, dan mengajak UMKM terlibat dalam kegiatan ekonomi.”

Bentuk keunggulan tersebut harus diwujudkan dalam layanan yang nyata. Misalnya, pemesanan kebutuhan rumah tangga yang praktis, pengadaan bersama bagi anggota, atau kerja sama distribusi untuk UMKM—sepanjang setiap model terbukti layak dan mampu dijalankan.

Kedekatan dengan warga menjadi modal awal, tetapi bukan jaminan kemenangan. Koperasi tetap harus menawarkan harga, kualitas, dan kemudahan yang mampu bersaing.

Anggota sebagai Kekuatan Pasar

Ada satu kelebihan struktural koperasi yang ingin dikembangkan Riri: anggota tidak hanya menjadi pelanggan, tetapi juga bagian dari organisasi.

“Kalau koperasi ingin tumbuh, kita tidak bisa bekerja sendirian. Kita perlu anggota yang aktif dan benar-benar merasakan manfaat layanan. Kita juga perlu membangun kerja sama dengan UMKM dan pelaku usaha di sekitar kita.”

Dalam praktiknya, jumlah anggota perlu diterjemahkan menjadi partisipasi ekonomi yang nyata. Berapa anggota yang aktif bertransaksi? Produk apa yang mereka butuhkan? Seberapa sering mereka menggunakan layanan? Apakah kerja sama dengan UMKM menghasilkan transaksi yang berulang?

Pertanyaan-pertanyaan itu dapat menjadi dasar pengembangan bisnis yang lebih terukur.

Dengan sistem digital, koperasi juga dapat mempelajari pola transaksi secara agregat untuk memperbaiki layanan, selama data anggota dikelola dengan aman dan digunakan secara bertanggung jawab.

Dari Duren Sawit untuk Percontohan Nasional

Menjadi koperasi percontohan nasional merupakan cita-cita yang memerlukan lebih dari sekadar gagasan besar. KKMP perlu menunjukkan bahwa model bisnisnya berjalan, laporan keuangannya tertib, pelayanannya digunakan masyarakat, dan sistem operasionalnya dapat diterapkan kembali.

Riri melihat peluang tersebut sebagai sesuatu yang patut diperjuangkan.

“Saya ingin KKMP Duren Sawit bisa menjadi contoh bahwa koperasi juga mampu modern dan profesional. Kita boleh memulai dari satu kelurahan, tetapi cara berpikir dan sistem bisnisnya harus disiapkan supaya bisa berkembang lebih luas.”

Menurutnya, perkembangan tidak harus menunggu semua hal sempurna. Koperasi dapat memulai dari kebutuhan yang paling jelas, menguji model usaha, mengukur hasilnya, lalu memperluas kegiatan ketika fondasinya sudah cukup kuat.

Dalam konteks itu, AI memberi peluang untuk mempercepat proses belajar dan pengembangan sistem. Namun, keberhasilan tetap bergantung pada kemampuan pengelola membaca pasar, menjaga kualitas layanan, mengendalikan biaya, dan mengambil keputusan yang tepat.

Bagi KKMP Duren Sawit, ukuran kemajuan bukan hanya seberapa banyak gerai yang dibuka. Ukurannya adalah apakah koperasi mampu membangun usaha yang sehat, memperoleh pelanggan yang kembali bertransaksi, dan memberikan manfaat nyata bagi anggotanya.

Dari sebuah kelurahan, koperasi bisa menargetkan pasar yang lebih luas. Tetapi langkah pertama tetap sama: memahami kebutuhan masyarakat dan membuktikan bahwa koperasi mampu melayaninya dengan baik.


Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Reporter / Redaksi NARATIVE.ID

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

Sucy Sanggar PSB ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT