NARATIVE.ID · Network of Local News
ADVERTISEMENTtes4
Lingkungan & Bencana

Pemerintah Gunakan Dry Ice Atasi Kabut Asap Karhutla di Sumatra dan Kalimantan, BMKG Ungkap Hasil Awal

Pemerintah menggunakan dry ice melalui OMC untuk membantu mengurai asap karhutla di Sumatra dan Kalimantan. BMKG melaporkan indikasi perbaikan jarak pandang.
Persiapan pengangkutan material untuk mendukung operasi penanganan karhutla melalui udara. Dokumentasi yang menyertai siaran pers BMKG tentang penggunaan dry ice, 20 Oktober 2026.
Persiapan pengangkutan material untuk mendukung operasi penanganan karhutla melalui udara. Dokumentasi yang menyertai siaran pers BMKG tentang penggunaan dry ice, 20 Oktober 2026. · Foto: BMKG

NARATIVE.ID, JAKARTA — Pemerintah memanfaatkan teknologi penyemaian dry ice atau es kering melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan.

Operasi tersebut melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertahanan, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dalam keterangan resminya, Selasa (20/10/2026), BMKG menjelaskan bahwa teknologi ini digunakan untuk mengatasi lapisan inversi atmosfer yang menyebabkan asap terperangkap di dekat permukaan bumi.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, dalam kondisi tertentu, kabut asap pekat dapat terjebak pada ketinggian 6.000 hingga 7.000 kaki, bahkan lebih tinggi.

Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menerangkan bahwa penyemaian dry ice dilakukan dari pesawat untuk membantu mengubah kondisi atmosfer sehingga asap dapat bergerak ke lapisan udara lebih tinggi.

“Kondisi ini memungkinkan asap bergerak naik secara vertikal dan terurai ke atmosfer,” kata Seto.

Berbeda dengan modifikasi cuaca untuk memicu hujan, metode ini menargetkan lapisan atmosfer yang menghambat pergerakan udara secara vertikal. Teknik tersebut menjadi alternatif ketika awan potensial untuk penyemaian hujan terbatas.

Jarak Pandang di Palembang Mulai Membaik

BMKG melaporkan adanya indikasi perbaikan kondisi atmosfer setelah pelaksanaan intervensi dry ice di sejumlah wilayah terdampak.

Salah satu contohnya terjadi di Palembang, Sumatra Selatan, ketika jarak pandang berangsur membaik setelah pelaksanaan operasi.

BMKG menggunakan dua indikator utama untuk mengevaluasi hasil intervensi, yakni peningkatan jarak pandang dan penurunan konsentrasi partikel polutan PM2.5 di udara.

Perbaikan jarak pandang dinilai penting untuk mendukung keselamatan penerbangan sipil sekaligus memperlancar operasi pemadaman karhutla menggunakan helikopter water bombing dan pesawat patroli.

Meski menunjukkan indikasi positif, BMKG menegaskan efektivitas penyemaian dry ice tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan perkembangan kebakaran di lapangan.

Bukan Pengganti Pemadaman Kebakaran

BMKG mengingatkan bahwa modifikasi cuaca bukan satu-satunya solusi penanganan karhutla.

Pemadaman langsung di darat, patroli, pencegahan kebakaran, penegakan hukum, serta keterlibatan masyarakat tetap diperlukan untuk menghentikan sumber kebakaran.

Pemerintah mengandalkan koordinasi lintas instansi agar intervensi atmosfer berjalan seiring dengan penanganan kebakaran di lapangan.

BMKG menyatakan akan terus melakukan pemantauan dan analisis meteorologi guna mendukung upaya pengurangan dampak kabut asap terhadap masyarakat dan aktivitas transportasi.

Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Reporter / Redaksi NARATIVE.ID

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

Sucy Sanggar PSB ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT