NARATIVE.ID, Pemalang, (23 Oktober 2026) — SMAN 1 Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, resmi meluncurkan program Sekolah MANTAP (Akademik, Terampil, Produktif), Jumat (23/10/2026). Program ini dirancang untuk memperkuat keterampilan peserta didik agar lebih siap menghadapi dunia kerja maupun membangun usaha setelah menyelesaikan pendidikan.
Sejumlah kegiatan keterampilan mulai diperkenalkan kepada siswa, antara lain pemasaran daring, peternakan, pengenalan dunia kerja, serta kegiatan yang berkaitan dengan layanan keuangan melalui BKK dan mini bank. Program ini diharapkan menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan praktis, kreativitas, dan kemandirian ekonomi.
Peluncuran program dihadiri Kasi Bidang SMA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XII Jawa Tengah, Lebdo Wiharso, Kepala SMAN 1 Bantarbolang Moh Solehudin, perwakilan BPR BKK Taman, unsur kecamatan, Kapolsek, Koramil, komite sekolah, tokoh masyarakat, serta orang tua siswa.
Memberikan Bekal untuk Masa Depan SiswaKepala SMAN 1 Bantarbolang, Moh Solehudin, menyampaikan bahwa Sekolah MANTAP merupakan upaya sekolah memberikan bekal keterampilan hidup kepada peserta didik, terutama bagi mereka yang tidak berencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Mudah-mudahan dengan program Sekolah MANTAP ini anak-anak dapat lebih berkreasi, anak-anak memiliki masa depan yang lebih cerah,” ujarnya.
Melalui program tersebut, sekolah berupaya memperluas pengalaman belajar siswa agar tidak hanya memahami materi akademik, tetapi juga mengenal praktik kerja, aktivitas usaha, dan keterampilan yang dapat digunakan setelah lulus.

Penyampaian sambutan dalam peluncuran program Sekolah MANTAP. Foto: Dokumentasi
Lebdo Wiharso menjelaskan bahwa Sekolah MANTAP merupakan program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk membekali siswa dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Harapannya, lulusan yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tetap memiliki peluang untuk bekerja di perusahaan maupun industri.
Arah tersebut sejalan dengan upaya menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan kehidupan nyata. Namun, perkembangan ekonomi dan teknologi saat ini juga menghadirkan tantangan yang perlu diantisipasi lebih jauh oleh sekolah dan para mitranya.

Paparan program dalam kegiatan peluncuran Sekolah MANTAP di SMAN 1 Bantarbolang. Foto: Dokumentasi
KMP BSP : Dari Link and Match Menuju Create and Own Wisnu Murti Indra Raharjo,
Ketua Koperasi Multi Pihak Banyu Suci Perwitasari (KMP BSP) sekaligus mitra pelaksana program, menyatakan komitmen untuk mengembangkan kolaborasi dengan SMAN 1 Bantarbolang. Menurutnya, unit-unit usaha KMP BSP dapat dimanfaatkan sebagai living laboratory atau laboratorium kehidupan nyata bagi peserta didik.
Tahap awal kolaborasi akan diarahkan pada bidang agribisnis, khususnya peternakan ayam petelur. Siswa diharapkan tidak hanya mempelajari aspek teknis peternakan, tetapi juga memahami proses produksi, pengelolaan usaha, pencatatan biaya, pemasaran, hingga bagaimana sebuah kegiatan ekonomi dapat tumbuh dan berkelanjutan.
Ke depan, kolaborasi berpotensi diperluas ke sektor usaha KMP BSP lainnya, sesuai dengan minat siswa, kebutuhan pasar, dan ketersediaan mitra pendamping.
Namun, Wisnu menilai bahwa hubungan antara sekolah dan dunia usaha perlu bergerak lebih maju daripada konsep link and match yang selama ini dikenal dalam pengembangan pendidikan.
“Menurut saya, kita perlu melangkah dari sekadar link and match menuju create and own. Jangan hanya menyiapkan anak-anak agar cocok dengan kebutuhan perusahaan yang sudah ada. Kita juga harus menyiapkan mereka supaya mampu menciptakan usaha, membangun nilai ekonomi, dan pada akhirnya memiliki bagian dari kegiatan ekonomi yang mereka kembangkan,” ujarnya.

Pemaparan gagasan kolaborasi sekolah dan mitra dalam peluncuran Sekolah MANTAP. Foto: Dokumentasi
Gagasan tersebut berangkat dari perubahan lanskap dunia kerja. Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memungkinkan banyak pekerjaan dilakukan dengan lebih cepat, lebih murah, dan oleh tim yang lebih kecil. Sejumlah pekerjaan rutin berpotensi berkurang, sementara kebutuhan keterampilan terus berubah.
Di saat yang sama, teknologi membuka peluang bagi individu untuk membangun usaha dengan skala organisasi yang jauh lebih ramping. Fenomena One Person Company (OPC), yakni model perusahaan yang dapat dijalankan oleh satu orang dengan dukungan teknologi dan layanan digital, menunjukkan bahwa kemampuan menciptakan usaha tidak lagi selalu bergantung pada pembentukan organisasi besar sejak awal.
Dalam konteks tersebut, pendidikan keterampilan perlu diarahkan bukan hanya untuk meningkatkan kesiapan seseorang menjadi pekerja, tetapi juga membangun kapasitasnya sebagai pencipta produk, penyedia jasa, pengelola usaha, dan pemilik aset ekonomi.
“AI akan mengubah banyak jenis pekerjaan. Karena itu, peserta didik jangan hanya dipersiapkan untuk mencari lowongan kerja. Mereka juga perlu belajar bagaimana menemukan masalah di lingkungannya, menciptakan solusi, membangun pasar, dan memiliki usaha yang bisa berkembang. Bukan berarti semua anak harus menjadi pengusaha, tetapi mereka perlu memiliki pilihan yang lebih luas daripada sekadar menunggu kesempatan kerja,” kata Wisnu.
KDKMP dan Peluang Menjadi Pemilik Ekonomi di Daerah SendiriWisnu juga mengaitkan gagasan create and own dengan keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), yang berpotensi dikembangkan sebagai institusi ekonomi milik bersama di tingkat lokal.
Menurutnya, koperasi dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan ekonomi produktif. Jika dikelola secara profesional, KDKMP berpotensi menjadi wadah bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam usaha, mengembangkan layanan, membangun rantai pasok, dan memperoleh manfaat ekonomi dari potensi daerahnya sendiri.
Dalam gagasan kolaborasi ini, peserta didik diharapkan tidak berhenti sebagai penerima pelatihan atau calon tenaga kerja. Mereka juga perlu diperkenalkan pada kemungkinan menjadi anggota sekaligus pemilik KDKMP sesuai domisili atau wilayah tempat tinggalnya, mengikuti ketentuan keanggotaan dan tata kelola koperasi yang berlaku.
Dengan pendekatan tersebut, keterampilan yang diperoleh di sekolah dapat dihubungkan dengan kebutuhan ekonomi di desa atau kelurahan masing-masing. Siswa yang belajar agribisnis, misalnya, dapat mengembangkan usaha peternakan, pengolahan hasil pertanian, pemasaran produk lokal, atau layanan pendukung yang dibutuhkan pelaku usaha di wilayahnya.
Sementara itu, siswa yang memiliki kemampuan digital dapat mengembangkan jasa pembuatan konten, desain promosi, pengelolaan media sosial, pemasaran digital, atau layanan berbasis AI untuk membantu UMKM dan koperasi setempat.
KDKMP berpotensi menjadi salah satu simpul yang mempertemukan keterampilan tersebut dengan kebutuhan pasar, jaringan pemasok, konsumen, dan modal usaha bersama. Bentuk kerja samanya tetap perlu dirancang sesuai aturan koperasi, kemampuan usaha, serta kesepakatan para pihak.
“Harapannya, anak-anak tidak selalu membayangkan masa depan yang baik berarti harus merantau ke kota besar. Kalau potensi daerah dipetakan dengan benar, keterampilan mereka dikembangkan, dan tersedia institusi ekonomi yang bisa menjadi tempat berusaha bersama, mereka memiliki peluang untuk membangun masa depan dari daerahnya sendiri,” ujar Wisnu.
Menurutnya, gagasan ini bukan berarti menutup kesempatan siswa untuk bekerja di luar daerah atau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Yang ingin dibangun adalah lebih banyak pilihan: melanjutkan studi, bekerja, membangun usaha sendiri, atau mengembangkan usaha bersama melalui koperasi.
Dengan demikian, orientasi pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penempatan lulusan di pasar kerja, tetapi juga dengan kemampuan masyarakat setempat untuk menciptakan dan memiliki kegiatan ekonomi yang produktif.
Empat Klaster Keterampilan yang Berpotensi DikembangkanUntuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam kegiatan pembelajaran, KMP BSP melihat sejumlah bidang usaha yang berpotensi dikembangkan bersama SMAN 1 Bantarbolang. Penentuan klaster tetap memerlukan pemetaan minat siswa, kebutuhan pasar, serta kesiapan mitra dan fasilitas.

Peninjauan fasilitas peternakan ayam petelur sebagai bagian dari kegiatan Sekolah MANTAP. Foto: Dokumentasi
Pertama, digital, media, dan ekonomi kreatif. Melalui BSP Media, siswa berpotensi belajar produksi konten, fotografi produk, desain promosi, pemasaran digital, pengelolaan media sosial, serta pemanfaatan AI untuk mendukung produktivitas. Keterampilan ini dapat digunakan untuk mendukung UMKM, koperasi, dan produk lokal sekaligus membuka peluang usaha jasa kreatif.
Kedua, agribisnis dan kewirausahaan. Melalui BSP Agritama dan jejaring usaha lokal, siswa dapat diperkenalkan pada rantai nilai agribisnis, budidaya, pengelolaan produksi, pencatatan biaya, pengemasan, pemasaran, hingga simulasi model bisnis. Peternakan ayam petelur menjadi salah satu pilihan awal untuk menghubungkan pembelajaran dengan praktik usaha.
Ketiga, seni, budaya, dan ekonomi kreatif lokal. Melalui Sanggar Budaya Kustoro Raharjo, peserta didik berpotensi mempelajari dokumentasi budaya, seni tradisi, produksi konten kebudayaan, pengelolaan acara, dan promosi potensi lokal. Kebudayaan dapat dipelajari bukan hanya sebagai warisan, tetapi juga sebagai sumber penciptaan nilai ekonomi yang tetap menjaga identitas daerah.
Keempat, kuliner dan manajemen usaha. Melalui BSP Food & Beverages dan jejaring UMKM kuliner, siswa dapat belajar pengolahan makanan, higiene, pengemasan, perhitungan harga pokok, pelayanan pelanggan, dan pemasaran. Pembelajaran dapat dilanjutkan dengan simulasi usaha kecil yang menguji kemampuan siswa mengelola produk dan melayani pasar.
Keempat klaster tersebut masih berupa alternatif pengembangan, bukan keputusan final. Pemilihannya perlu menggunakan pendekatan 3M: Minat Murid, Market, dan Mitra.

Interaksi dengan siswa pada stan produk dalam rangkaian kegiatan peluncuran. Foto: Dokumentasi
Minat Murid berkaitan dengan bakat, ketertarikan, dan aspirasi peserta didik. Market mengukur kebutuhan konsumen, peluang kerja, serta potensi usaha lokal. Mitra memastikan tersedianya praktisi yang kompeten, fasilitas praktik, pendampingan, dan lingkungan belajar yang memadai.
Pada tahap awal, sekolah dan mitra dapat memilih satu atau dua klaster yang paling siap untuk diuji, kemudian mengevaluasi hasilnya sebelum diperluas.
Menghubungkan Keterampilan dengan Ekosistem Ekonomi DaerahBagi KMP BSP, keberhasilan kolaborasi tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan pelatihan yang diselenggarakan. Hal yang lebih penting adalah perubahan kemampuan peserta didik dan sejauh mana keterampilan tersebut dapat digunakan dalam kehidupan nyata.
Evaluasi dapat mencakup kemampuan teknis, portofolio karya, kualitas produk, pemahaman biaya dan pemasaran, pengalaman menjalankan proyek, serta kemampuan bekerja sama dan memecahkan masalah. Untuk jalur kewirausahaan, indikatornya dapat mencakup produk yang benar-benar diuji ke pasar, pelanggan pertama, atau usaha rintisan yang layak dikembangkan.
Kolaborasi dengan KDKMP juga perlu dirancang secara bertahap. Tahap awal dapat berupa pengenalan potensi ekonomi lokal dan kebutuhan usaha koperasi. Selanjutnya, peserta didik dapat mengerjakan proyek yang relevan, membantu pemasaran produk anggota, mengembangkan layanan digital, atau menguji ide usaha berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat.
Pendekatan ini menempatkan sekolah, dunia usaha, koperasi, dan masyarakat dalam satu ekosistem pembelajaran. Sekolah membangun fondasi akademik dan keterampilan, mitra usaha menyediakan pengalaman praktik, sedangkan koperasi berpotensi menjadi wadah partisipasi ekonomi bersama.
Meski demikian, pengembangan keterampilan tetap harus menjaga fungsi utama SMA sebagai pendidikan umum. Program ini perlu memperkaya pembelajaran akademik, bukan menggantikannya dengan pendidikan vokasi penuh. Kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi juga harus tetap terbuka.

Peninjauan fasilitas mini bank SMAN 1 Bantarbolang. Foto: Dokumentasi
Membangun Pilihan Masa Depan yang Lebih LuasPeluncuran SMA MANTAP di SMAN 1 Bantarbolang menjadi langkah awal untuk memperkuat hubungan antara pendidikan dan kehidupan nyata. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa program tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau pelatihan yang terpisah dari kebutuhan ekonomi.
Perkembangan AI menuntut generasi muda untuk menguasai keterampilan baru sekaligus memiliki kemampuan beradaptasi. Sementara itu, keberadaan koperasi desa dan kelurahan membuka ruang untuk memikirkan bagaimana keterampilan tersebut dapat terhubung dengan kepemilikan dan pengembangan usaha bersama.
Dalam kerangka create and own, peserta didik tidak hanya belajar agar dapat memasuki sistem ekonomi yang sudah tersedia. Mereka juga dipersiapkan untuk berpartisipasi membangun sistem ekonomi di lingkungannya sendiri.
Tujuannya bukan membuat semua lulusan menjadi pengusaha atau menjadikan koperasi sebagai satu-satunya jalan. Tujuannya adalah memperluas pilihan masa depan: menjadi tenaga kerja yang kompeten, melanjutkan pendidikan, menjadi pelaku usaha mandiri, atau menjadi bagian dari kepemilikan usaha bersama.
Pada akhirnya, pendidikan yang produktif bukan sekadar menghasilkan lulusan yang siap bekerja. Pendidikan juga perlu memberi mereka kemampuan untuk menciptakan pekerjaan, membangun usaha, dan mengambil bagian dalam kepemilikan ekonomi.
Bagi SMAN 1 Bantarbolang, KMP BSP, dan calon mitra KDKMP, gagasan tersebut dapat menjadi arah pengembangan bersama: dari sekolah yang terhubung dengan dunia usaha menuju ekosistem yang memungkinkan generasi muda menciptakan dan memiliki masa depan ekonominya sendiri.


▶
▶
▶
▶
▶
▶
▶







Narative.id Malang · Wisata, Kuliner & Budaya
Narative.id Jawa Timur · Ekonomi & Usaha
Narative.id Lumajang · Warga & Sosial
Narative.id Jawa Timur · Wisata, Kuliner & Budaya
Narative.id Tegal · Wisata, Kuliner & Budaya
NARATIVE.ID · Lingkungan & Bencana
NARATIVE.ID · Wisata, Kuliner & Budaya
NARATIVE.ID · Teknologi & Kreatif

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR